Label

Minggu, 31 Juli 2016

Apa Sih yang Gue Cari, Sebenernya?


Pernah gak kalian ngetes orang? Gue, sering. Nyaris hobi kayaknya. Meski udah punya prediksi gimana hasilnya tetep aja gue lakuin. My bad habit but I can't help it... sebenernya ini salah satu alasan gue jadi manusia di bawah rata-rata. Karena setiap result sebenernya critical banget pengaruhnya. Anehnya, gue gak kapok untuk hal ini.


Tanpa sadar pikiran gue terlalu kritis akan relationship di dunia ini, bahasa gaulnya: kepo. Kepo banget kenapa sih orang bisa suka, kenapa sih orang bisa deket, kenapa sih, kenapa sih, kenapa??? Iseng-iseng, nempeleng diri sendiri.



 
Fisik
Hal termainstream yang menjadi tolak ukur cowok mau pun cewek. Mereka yang eye-catching didekati dikagumi dikelilingi, cobalah tampil kebalikannya, see what happens. It's fun, man. Berkali-kali gue ulang-ulang dan jantung gue masih bisa menikmati sensasi di setiap keadaan; enjoy ngeliat orang-orang pergi waktu gue sengaja ngancurin tampilan dan ngehina dalam hati nikmatin orang berdatangan waktu sengaja cantik. Kerennya, gak cuma cowok yang kena gelombang iseng gue ini tapi cewek ternyata kena, gile nyari temen aja yang cantik men ckckck.

Ability
Bisa masak? Bisa bersih-bersih? Bisa nulis? Bisa ngerjain makalah dengan rapih? Bisa diandelin? Jelas dikerebungin. Sengaja useless deh. It's cool to find out the true color of people. Mana golongan butuh dan mana golongan solid.

Behavior
Cool, ramah, baik, manis, easy-going. Coba dibalik. Masihkah ada yang akan bertahan di dekat kita? Jangan mikir "iyalah kalo orang rese gak bakal ada yang deket! pasti dijauhin!" mikirlah : the right person would be like "what's wrong with you?" the right person akan dengan kepo mencari tahu apa yang terjadi dan berusaha membantu bukan meninggalkan.

Presence
Selalu ada, bisa diandelin, tempat curhat terbaik. Gue juga demen orang kayak gitu. But be otherwise. Lihatlah apakah mereka yang pernah kita beri solusi akan mencarikan solusi untuk kerusakan presence kita?

Frightened
Beberapa tahun belakangan gue stay natural. Gue pernah lagi iseng dandan, depan kelas ada yang mandang kaget ke gue. Gue tau maksud pandangan itu gak ngebully, tapi agak kagum. Tapi tatapan kayak gitu yang justru bikin gue ketakutan. Orang suka kita karena tampilan, mostly. Besoknya gue dekil lagi aja gak pake apa-apa. Gue sadar bagusan begini, hati gue damai. Gak ada yang gue cemasin. Gue mungkin terlalu anxious kali ya. Bagi gue, fisik suatu hari pudar kemakan usia, ability mungkin mundur karena hal tak terduga, behaviour suatu hari pasti sempet geser ketabrak masalah, presence mungkin berkurang dan rusak karena banyak hal; di saat-saat itu gimana kalo orang-orang yang terlalu gue percaya ngecewain dengan ninggalin gue? Jadi untuk sekarang gue mau jadi tipikal naturalis, apa adanya aja. No grooming, no bulshit, no drama. If you need me let me know and I'll be there. Otherwise, don't ask me to be sweet little girl.

Anyway. Pertama kali ngelakuin tes ini, gue terpuruk banget sama hasilnya. Kagetlah, pasti. But yet, gue kayak gak kapok, rasa kepo gue masih tinggi yang lama-lama bertransformasi menjadi keisengan yang tak tertahankan. Gak tahan aja kalo gak ngetes. Udah tau bakal kecewa lagi, tapi tetep gue lakuin. Udah tau gak bakal ada 'right person' yang gue cari itu (cuma standar kualifikasi yang ketinggian sepertinya), gue masih pengen lakuin. Semua itu bikin gue mikir, dengan kayak gini, apa sih yang gue cari sebenernya?

My wish
is be loved because of my thought and nothing else. tapi makin lama it seems impossible. apa lagi sekarang gue bertransformasi bener-bener jadi kebalikanya, karma kali ya, gue gak valuable sebagai cewek. so I have no goal for those things anymore.

Gue percaya ada orang tulus di dunia ini yang bakal lolos tes iseng ini (naif sekali), tapi gue pesimis nemuin orang kayak gitu di deket gue.

Jatohnya kayak masochist ya? Nyakitin diri sendiri, berulang-ulang.

Talk about masochist, sebenernya tanpa sadar kebanyakan orang punya bakat di bidang itu. Contoh: Orang yang suka pedas. Pedas itu bukan sebuah rasa yang bisa dicap indera perasa kita (lidah), pedas sebenarnya adalah iritasi lidah dari rasa terbakar. And most people love spicy food, masochist thing, am I right? :D

Sabtu, 30 Juli 2016

Laugh for life


People can break our hearts. Play with our trust. Make us question about integrity and intent.

But the moment we judge them, aren't we just judging ourselves?

The moment we blame them, aren't we giving them power over us?

The moment we hate them, aren't we just drinking our own poison?

Sabtu, 13 Februari 2016

Nyanyian Hujan ~ Kahlil Gibran

Aku adalah bulir perak yang jauh menciptakan
Galur yang diturunkan dari surga oleh dewa-dewa.
Alam kemudian mngambilku, untuk menghiasi
Ladang-ladang dan lembah-lembahnya

Aku mutiara cantik, yang direnggut dari
Mahkota Isthar oleh anak perempuan Fajar
Untuk mempercantik kebun-kebunnya.

Ketika aku akan menangis bukit-bukit akan tertawa;
Ketika aku merendahkan diriku kembang-kembang
Bersuka ria;
Ketika aku menunduk, semua mahluk bergembira.
Ladang dan awan adalah para pencinta
Dan diantara mereka adalah aku sebagai pembawa
Pesan belas kasih.
Aku memuaskan dahaga salah satu dari mereka;
Aku obat bagi sakit yang lainnya.

Suara petir menyambut kehadiranku;
Pelangi mengantarkan keberangkatanku.
Aku mirip kehidupan duniawi, yang mulai pada
Kaki-kaki cuaca yang marah dan berakhir
Dibawah sayap kematian yang terentang,

Aku muncul dari hati lautan dan melayang dengan angin
Sepoi. Ketika aku melihat sebuah ladang dengan
Kebutuhannya, aku turun dan memeluk bunga-bunga dan
Pepohonan dalm jutaan jalan kecil.

Aku menyentuh dengan lembut kaca jendela dengan
Lemari halusku, dan maklumatku adalah
Lagu penyambutan. Semua dapat mendengar, tetapi
Hanya yang peka dapat memahami.

Panas di dalam udara menciptakan kelahiranku,
Tetapi sebaiknya aku membunuhnya,
Seperti perempuan mengatasi lelaki dengan
Kekuatan yang diambil dari lelaki itu.

Aku adalah desahan lautan;
Tawa padang rumput; Air mata surga.

Maka dengan cinta
Desahan dari dalam laut dipenuhi kasih sayang;
Tawa dari padang spirit menajadi berwarna-warni;
Air mata dari surga sarat kenangan tanpa akhir.

Selasa, 26 Januari 2016

Percaya dan Harapan

PERCAYA. percaya bahwa dunia tidak akan mengkhianati segala yang telah diperjuangkan sejak lama. percaya kalau ada cinta dibalik mimpi itu. percaya jika memang itu yang terbaik. itu yang paling baik. dan akan menjadi yang amat sangat terbaik.


yakin jika akan ada pelangi dibalik awan kelabu yang menyembunyikan berbagai rahasia. menciptakan kekaguman akan kilat yang membutakan, sekaligus ketakutan. aku tidak takut petir manapun yang menyambar ketika aku mengacungkan telunjuk ditengah lapang. hanya berbekalkan kepercayaan, aku percaya dan tidak takut.


HARAPAN. aku tutup mataku, aku rasakan hembusan badai yang membantingku sedemikian rupa. aku lupa daratan mana yang sedang kupijak. aku lupa dimana aku sekarang. aku tersesat. tapi dengan telunjuk yang masih mengacung entah dimana, aku yakin dan percaya apa yang aku lakukan selama ini akan membuahkan hasil.


meskipun aku tahu aku telah tersesat, bayang pelangi melambai dari kejauhan. aku masih percaya walaupun aku tahu itu hanya fatamorgana.

jadi, aku tidak akan mengakhiri dengan mudah apa yang dimulai dengan susah payah. aku akan terus mengacungkan telunjuk dan percaya akan kemurahanNya. dan terus berharap serta yakin pelangi akan muncul diakhir badai ini.


Yaa.... Sampai akhir, sampai saat ini . aku hanya bisa percaya dan berharap. Hanya sekedar sebuah keyakinan untuk sedikit menghibur diri.